Part 1
Part 2
Part 3
Wiby dan yudho menikmati liburan akhir semester di tempat yang berbeda, Yudo yang menyukai keindahan alam memilih berlibur ke pegunungan yang berada di kampung neneknya tinggal. Sedangkan Wiby yang menyukai berbagai binatang, ia memilih untuk berlibur ke kebun binatang yang masih satu daerah dengan tempat tinggalnya. Mereka begitu menikmati liburannya, namun entah kenapa rasa penasaran Wiby terhadap Rega belum juga hilang.
“Kenapa aku masih penasaran dengan sikap Rega ya?” Wiby menggrutu dalam hati. Wiby pun memutuskan untuk menelepon Yudo, karena dia sudah berjanji bahwa ia akan mengabari Yudo.
“Halo, wiby”
“Kamu apa kabar Yudho?”
“Akhirnya kamu mengabariku Wiby, sepertinya kamu begitu menikmati liburanmu ya? Sampai lupa mengabariku, hehe..”
“Iya maaf do, aku baru sempat mngabarimu, aku disibukan dengan Pugi yang selalu mengajaku bermain, sepertinya ia tahu kalau aku libur sekolah”
“Pugi memang kambing pintar”
“Bagaimana dengan liburanmu, Yudo?”
“Sangat mnyenangkan, pemandangan di kampung neneku masih sangat asri dan udaranya pun sejuk, tapi sayangnya besok aku harus pulang ke kota, karena ayahku sudah harus masuk kerja lagi”
“Kedengarannya indah ya, aduhhh sayang sekali Yudo, padahal waktu liburan kan masih cukup lama”
“Iya, ya mau bagaimana lagi, kamu sekarang dimana Wiby?”
“Aku sedang berada di rumah, sebentar lagi aku dan Pugi mau pergi ke padang rumput dekat rumah”
“Kamu jadi pergi ke kebun binatang yang waktu itu kamu ceritakan?”
“Iya Yudo aku kemarin pergi ke kebun binatang itu bersama Pugi, ayah dan ibu, aku juga disana bertemu Rega. Dan ada hal yang aku ingin ceritakan padamu Yudo”
“Wah pasti seru ya, cerita apa?”
“Nanti saja kalau kamu sudah pulang, sudah sore, sekarang aku mau ke padang rumput dulu ya”
“Baiklah”
“Sampai jumpa Yudo”
“Sampai jumpa”
Setelah Wiby menutup teleponnya, Yudho penasaran apa yang akan Wiby ceritakan nanti.
“Apa yang mau diceritkan Wiby ya? Apa ada kaitannya dengan Rega?”. Pertanyaan – pertanyaan itu terus muncul dipikirannya.
Rasa penasaran itu membuat Yudo berubah pikiran, awalnya ia tidak mau pulang ke kota, ia masih ingin menikmati udara di kampung neneknya, rasa penasaran yang kuat akan apa yang diceritakan Wiby mendorongnya untuk pulang ke kota bersama ayah dan ibu Yudo.
“Ayah, ibu…! Besok kita jadi kan pulang?”
”Loh bukannya tadi kamu bilang, kamu gak mau pulang besok?
“Tidak bu, Yudho ingin pulang besok”
“Ada apa ini? Bukankah ayah sudah mengizinkanmu untuk tinggal beberapa hari lagi disini? Lalu kenapa kamu ingin pulang besok?”
“Aku hanya ingin bermain dengan teman-temanku disana ayah, mereka sudah kembali dari liburannya”
“Baiklah, jika itu maumu”
Keesokan harinya Yudo, ibu dan ayah kembali ke kota. Di sepanjang perjalanan, Yudo tampak begitu menikmati pemandangan alam, sesekali dia membuka kaca mobil yang berada disampingnya. Ketika dia menghirup dalam – dalam udara segar, tiba – tiba mobil yang ditungganginya berbelok arah dan lambat laun berhenti ke tepi jalan tepat di depan sebuah toko. Yudho melongokkan kepalanya ke jendela, dan membaca tulisan besar di depan toko itu “BUAH TANGAN DARI KAMPOENG” ini artinya…..
“Ayah, mau beli oleh – oleh?”
“Iya Yudo, ayo turun, ibumu sudah menunggu..”
“Yesss, ayo ayah”
Yudo, ibu dan ayah berhenti di sebuah toko oleh-oleh. Mereka membeli banyak oleh-oleh yang akan dibagikan kepada teman-temannya di kota, termasuk Wiby, teman Yudo. Setelah sekian lama dalam perjalanan akhirnya mobil yang Yudo tunggangi berhenti di depan rumah. Ya itu rumah Yudo, mereka sudah sampai.
Keesokan harinya, Yudo pergi ke padang rumput tempat Wiby dan Pugi bermain, dia tidak sabar ingin menunjukkan sesuatu pada Wiby.
“Wiby…!!!”
“Hai, Yudo…!! Kapan pulang?”
“Tadi malam, Pugi mana?”
“Dia…..”
Belum sempat Wiby memberitahu Yudo, Yudo langsung memotongnya dengan menunjukkan apa yang Yudo bawa.
“Eh iya Wiby, aku membawa sesuatu untukmu…”
“Apa itu Yudho?”
“Itu oleh-oleh yang aku beli kemarin dengan ayah, itu buat kamu”
“Wah, terimkasih Yudo, bentuknya unik - unik ya,,, ini bentuk apa saja Yudo”. Sambil menunjukkan beberapa bentuk oleh- oleh yang diberikan Yudo.
“Ini namanya, prisma segi enam….”
“Kalau yang ini?”
“Ini juga sama, namanya prisma segitiga, sebenarnya kubus dan balok juga itu prisma, kubus kita sebut prisma persegi, sedangkan balok prisma persegi panjang”.
“Oh, jadi penamaan prisma segi-n itu dilihat dari bangun datar pada alas dan atap prisma?”
“Betul sekali Wiby, bila segienamnya beraturan, maka disebut prisma tegak segienam beraturan. Bila prismanya tegak dengan segi-n beraturan, maka disebut prisma tegak segi-n beraturan.
Nah, sini aku kenalkan unsur-unsur yang ada pada prisma
prisma ini terdiri dari sepasang sisi alas dan atas, kita beri nama sisi ABCDEF dan sisi GHIJKL.
AC dan AD adalah diagonal alas.
AI dan AJ adalah diagonal ruang prisma.
“Hampir sama seperti kubus dan balok ya, lalu untuk menghitung luas dan volume prisma bagaimana, yudho?”
“Oke aku akan tunjukkan caranya, sima baik-baik ya…”
Alas segienam beraturan dapat dipecah menjadi enam buah segitiga sama sisi dengan panjang sisi a (misal).
Dengan menggunakan teorema Pythagoras untuk menentukan tinggi segitiga, luas masing-masing segitiga dapat ditentukan yaitu
Maka secara umum berlaku Volume prisma segi-n = luas alas prisma × tinggi
“Oh seperti itu, iya Yudo sekarang aku paham..”
“Oh iya Wiby, tadi aku menanyakan Pugi dan kamu belum sempat mejawabnya, kemana dia?”
“Dia kembali ke rumahnya, pada pemiliknya”
“Maksudnya?”
“Pugi aku kembalikan pada pemiliknya, Rega pemiliknya, ayahku membelinya dari ayah Rega dan memberikannya kepadaku sebagai hadiah ulang tahunku dulu”.
“Rega?”
“Iya Rega, waktu itu aku dan Pugi sedang berjalan-jalan ke kebun binatang, lalu aku melihat Pugi dan Rega begitu akrab, dan ternyata memang Pugi sudah mengenal Rega begitu lama”.
“Lalu kenapa ayah Rega menjual Pugi kepada ayahmu?”
“Dulu ibu Rega sakit parah dan memebutuhkan biaya besar, tidak ada pilihan lain selain menjual Pugi. Dan sekarang aku mengembalikannya karena Pugi sangat menyayangi Rega”.
“Tapi shaun juga menyayangimu bukan?”
“Iya, tapi aku masih bisa bertemu Pugi kok, Rega mengizinkanku untuk bertemu Pugi kapan pun”.
“Pantas saja Rega bersikap seperti itu terhadapmu, apa mungkin gara-gara ini?”
“Iya Yudho, sebenarnya dia tidak setuju dengan ayahnya untuk menjual Pugi, namun terpaksa demi ibunya. Dan setelah dia tahu bahwa pemilik Pugi yang baru itu aku, Rega tidak suka padaku”.
“Iya aku tahu sekarang alasan Rega mencuri bola-bola di ruang olahraga, Rega memberikannya pada Pugi dan tanpa sepengetahuanmu, Rega bertemu Pugi dan mengajaknya bermain”.
“Iya Yudho, Rega sangat menyayangi Pugi, dia sudah memelihara Pugi sejak Pugi masih bayi”.
Akhirnya rasa penasaran Yudo yang ia bawa sepanjang perjalanan dari kampung neneknya ke kota sudah hilang, itu benar-benar berita besar, Yudho merasa beruntung dengan keputusannya untuk ikut pulang dengan ayah ke kota.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar