Setiap kehidupan persahabatan akan memiliki cerita yang berbeda-beda, senang dan sedih pasti menghampiri suatu hubungan persahabatan. Begitupun yang terjadi pada Kitty, Helly dan Wina. Tiga sejoli ini bersahabat sejak kecil, karena rumah mereka berdekatan waktu itu. Tetapi, semenjak mereka masuk ke sekolah dasar, rumah mereka terpisah dengan jarak yang cukup jauh, bukan tanpa alasan, tugas pekerjaan orang tua mereka yang menyebabkan rumah ketiga sahabat ini berjauhan. Walaupun demikian, Kitty, Helly dan Wina masih tetap berkomunikasi dan mereka memiliki rencana untuk melanjutkan sekolah ke SMP yang sama.
Hari ke hari mereka selalu berkomunikasi. Mereka berkomitmen untuk terus menjaga komunikasi, dimana pun mereka berada. Kini mereka sudah lulus dari SD dan melanjutkan ke tingkat SMP, rencana mereka untuk bersekolah di sekolah yang sama pun menjadi kenyataan.
“Kriiiiiiiiinggg…..” nada telepon Helly berbunyi.
“Halo Wina…” itu adalah panggilan dari sahabatnya.
“Halo Helly, bagaimana kamu diterima di SMP KENCANA?”. SMP KENCANA adalah sekolah yang mereka tuju karena jarak dari rumah mereka tidak begitu jauh.
“Iya Wina aku diterima di SMP KENCANA, lalu Kitty bagaimana, apakah dia juga diterima?”
“Tadi aku sudah menelepon Kitty, dan katanya dia juga diterima”
“Wahhh… aku bahagia mendengarnya, akhirnya kita bisa bersama-sama lagi”
“Iya Helly…. Aku pun bahagia”
Dari percakapan itu terdengar jelas kebahagiaan mereka bisa dipersatukan di sekolah yang sama. Hari demi hari mereka menjalankan aktivitas sebagai siswa baru di SMP KENCANA, mereka belajar bersama, bermain bersama, dan memilih kegiatan di luar sekolah pun bersama yaitu sanggar tari. Mereka masuk di sanggar tari yang sama tak jauh dari sekolah mereka, memang dari kecil mereka sudah menyukai tarian-tarian daerah dan mereka ingin belajar bersama tarian-tarian daerah itu. Kini mereka tidak lagi hanya menonton tarian daerah di sosial media, tapi merekalah yang menari.
Tak terasa sudah satu tahu mereka bersama, walaupun mereka bersahabat sejak kecil tetatpi mereka tidak menutup pergaulan untuk berteman dengan teman-teman yang lain juga termasuk berteman dengan Nadin sang Mrs. Math.
Bel berbunyi dengan panjang menandakan telah berakhirnya jam istirahat ….
“Wina… dari tadi aku tidak melihat kitty?”. Untuk kali ini Helly dan Wina tidak bertemu Kitty di jam istirahat
“Iya ya, aku juga tidak melihatnya tadi” sudah pasti Helly dan Wina merasa khawatir, sejak tadi di kelas pun Kitty tidak ceria seperti biasanya. Awalnya Helly dan Wina tidak mempermasalahkan hal itu, mereka beranggapan kalau Kitty sedang ingin sendiri dan tidak mau bercerita kepada siapapun termasuk sahabatnya.
“Sudah hampir satu minggu ini Kitty tidak masuk sekolah”
“Iya Win, bagaimana kalau kita ke rumahnya?”
“Kamu tau rumah baru Kitty?”
“Tidak Win, semenjak pindah, aku belum pernah ke rumah Kitty”
“Sama, akupun belum pernah ke rumah Kitty”
Tidak ada kabar dari Kitty semakin membuat Helly dan Wina khawatir, terlebih nomor telepon Kitty pun tidak bisa dihubungi yang membuat Helly dan Wina kebingungan.
“Helly, hari ini kamu ke sanggar tari kan?”
“Iya Win,”
“Nah bagaimana kalau kita tanya bu Tika?”
“Kenapa harus tanya ke bu Tika?”
“Bu Tika itu kan sangat memeperhatikan murid-muridnya Hel, setiap murid yang memiliki masalah pasti dia selalu membantunya”
“Iya juga ya”
Bu Tika adalah guru tari di sanggar tari tempat Helly, Wina dan Kitty belajar tari. Bu Tika sangat memperhatikan murid-muridnya, Ia selalu memberi nasihat-nasihat kepada murid-muridnya.
Helly dan Wina pergi ke sanggar tari, kali ini mereka latihan untuk mengikuti kompetisi menari nasional. Dan mereka akan membawakan tarian khas beberapa daerah, inilah momen yang mereka nantikan. Bisa berkompetisi di tingkat nasional.
“Oke, anak-anak sekarang kita istirahat dulu ya” teriak bu Tika.
“Baik bu……” anak-anak menjawab dengan serentak.
Helly dan Wina menghapiri bu Tika yang sedang meneguk air putih, sambil membawa harapan besar pada bu Tika.
“Permisi bu”
“Iya Wina, ada apa?”
“Bu, sudah hampir satu minggu ini Kitty tidak masuk sekolah, saya dan Helly sudah coba menghubunginya lewat telepon, namun nomornya tidak bisa dihubungi, apakah ibu tau ada apa dengan Kitty”
“Iya bu, kita khawatir”
“Tidak masuk sekolah? tapi Kitty tadi datang untuk latihan, dan ibu lihat tidak ada yang salah dengan Kitty”
“Kitty datang latihan, tapi kenapa dia tidak masuk sekolah, ya?” tanya Wina yang keheranan mendengar jawaban dari bu Tika.
“Ibu malah baru tau dari kalian kalau Kitty sudah hampir satu minggu tidak masuk sekolah”
“Kitty datang sesuai jadwal bu?”
“Iya Hel, Kitty datang sesuai jadwal latihannya”
Helly dan Wina akhirnya mendapatkan informasi dari bu Tika, walaupun belum tau pasti kenapa Kitty tidak masuk sekolah. Hal yang membuat Helly dan Wina lebih heran adalah Kitty yang tetap latihan di sanggar tari tepat di hari dia tidak masuk sekolah.
Kitty pergi ke sanggar enam hari sekali, sedangkan Wina dan Helly empat hari sekali. Helly dan Wina ke sanggar di hari yang sama yaitu pada hari selasa, tapi Wina dan Helly tidak menemui Kitty hari itu.
Helly dan Wina hanya bisa termenung kehilangan satu sahabatnya, jam istirahat pun kini menjadi sepi tidak lagi terdengar gelak tawa mereka di sudut taman depan sekolah, bangku panjang yang mereka duduki pun tak penuh terisi. Ada yang kurang memang. Dari kejauhan ada sepasang mata yang mengamati Helly dan Wina, menghampiri dan memberi perhatian layaknya teman satu kelas.
“Hai Helly, Wina…” sapa Nadin teman sekelas Helly, Wina dan Kitty.
“Eh Nadin, hai juga” Helly bangun dari lamunannya dan membalas sapaan Nadin.
“Kalian kenapa, aku perhatikan dari tadi kalian tidak seperti biasanya? Oh iya Kitty kemana?”
“Nah itu yang sedang kita bingungkan, kita tidak tau Kitty kenapa, nomor teleponnya tidak bisa dihubungi dan kita pun tidak tau rumah Kitty yang baru”
“Tapi anehnya Kitty tetap masuk sanggar tari seperti biasa” sambung Wina yang baru saja terbangun dari lamunannya.
“Oh gitu, tapi kalian bisa kan menemui Kitty di sanggar tari?”
“Sayangnya tidak bisa, kita dan Kitty memiliki jadwal latihan yang berbeda, jadwal latihan Kitty enam hari sekali, sedangkan aku dan Helly memiliki jadwal empat hari sekali”
“Kemarin Kitty pergi ke sanggar tari, aku dan Wina pun ke sanggar tari, tapi kita tidak bertemu Kitty” tambah Helly.
“Oh kalau seperti itu aku ada solusinya untuk kalian”
“Wah benarkah itu?”
“Kamu serius din?” Wina memantapkan pertanyaan Helly, yang menatap Nadin dengan harap kalau Nadin bisa membantunya bertemu Kitty.
“Kita bisa menghitungnya dengan menggunakan KPK (Kelipatan Persekutuan Kecil), coba kita tuliskan jadwal kalian” Nadin menuliskan jadwal Wina, Helly dan Kitty yang selanjutnya akan dioperasikan menggunakan konsep KPK (Kelipatan Persekutuan Kecil).
Wina dan Helly = 4 hari sekali
Kitty = 6 hari sekali
Maka kita hitung kelipatannya
Wina dan Helly = 4, 8, 12
Kitty = 6, 12
“Dari perhitungan diatas kita dapatkan 12 adalah angka yang sama dari jadwal Wina, Helly dan Kitty, ini berarti 12 hari yang akan datang kalian bisa menemui Kitty, hari ini adalah hari Rabu tanggal 22 Agustus 2018, 12 hari yang akan datang adalah hari Minggu tanggal 4 September 2018”.
“Oh seperti itu…. Wah kamu hebat Nadin” Helly merasa lega dengan mengetahui kapan ia dan Wina bisa bertemu Kitty.
“Ah tidak juga, ini hanya mengaplikasikan konsep matematika yang sudah kita pelajari di kelas”
“Iya ya, kamu emang hebat Nadin, aku tidak terpikir sampai sana, baiklah kita akan ke sanggar pada tanggal 4 September” Wina pun tak kalah bahagianya dengan Helly.
“Terimakasih Nadin….”
“Iya sama-sama, ayo kita masuk, bel sudah berbunyi”
“Iya ayo”
Wina dan Helly sudah tidak sabar menunggu hari itu tiba, mereka yakin pasti akan bertemu Kitty. Sembari menunggu hari minggu tiba tentunya Wina dan Helly tidak tinggal diam, dia menanyakan pada teman-teman yang lainnya, mereka berharap ada teman yang tau dimana rumah Kitty. Dan benar saja ada seseorang yang mengetahui rumah Kitty.
“Rida, dulu waktu SD kamu satu sekolah dengan Kitty kan?” tanya Wina dengan penasaran
“Iya betul, kenapa ya?”
“Kamu tau rumah Kitty dimana?”
“Tau, dulu sempat main ke rumahnya”
“Betulkah, kamu masih ingat alamat rumahnya?”
Rida pun memberikan alamat rumah Kitty, yang diberikan Rida adalah alamat rumah Kitty yang dulu ditempatinya waktu SD, apakah Kitty masih tinggal disana atau tidak, Rida pun tidak mengetahuinya. Sikap Kitty yang tertutup membuat orang yang mengenalnya tidak mengetahui lebih dalam tentang Kitty. Begitu pun Helly dan Wina, mereka sebenarnya hanya sering bermain bersama waktu kecil karena rumahnya mereka yang berdekatan. Namun mengenai kehidupan keluarga Kitty, Wina dan Helly pun tidak mengetahuinya. Berbeda dengan Helly dan Wina yang kedua orang tuanya sudah saling kenal. Dan benar saja ketika Wina dan Helly mendatangi alamat yang diberikan oleh Rida, Kitty tidak lagi tinggal disana, sudah lama Kitty dan keluarganya pindah namun tak ada satupun tetangga Kitty yang mengetahui rumah barunya. Wina dan Helly pun kembali ke rumah, menunggu hari minggu.
Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba, Wina dan Helly bergegas untuk pergi ke sanggar. Pagi hari sekali Wina sudah berada di depan rumah Helly.
“Helly…..!” teriaknya dari gerbang rumah Helly.
“Wina, pagi-pagi sekali kamu kesini, Helly baru saja bangun” Ibu Helly menghampiri Wina yang berdiri di depan gerbang.
“Hehe iya tante…”
“Ayo masuk dulu”
Setelah beberapa menit menunggu Helly yang sedang bersiap-siap, nada dring hp milik Wina berbunyi.
“Iya halo…”
“Wina, ini bu Tika”
“Bu tika (gumamnya dalam hati)” tidak biasanya bu Tika menelepon Wina pagi hari.
“Iya bu, ada apa ya?”
“Tadi Kitty ke sanggar, tapi hanya sebentar…”
Belum selesai bu Tika berbicara, Wina memotong pembicaraannya. Bukan karena kurang sopan santun, tapi mungkin reflek bahagia mendengar Kitty ada di sanggar.
“Wah sungguh bu, rencananya aku dan Helly juga mau ke sanggar bu hari ini, Kitty masih disana kan?”
“Tidak Wina, Kitty sudah pergi, dia hanya pamit”
“Pamit? pemit kemana bu?”
“Sebaiknya kamu dan Helly kesini dulu, nanti ibu ceritakan”
“Baik bu”
“Wina, ayo kita pergi, maaf ya kamu menunggu lama” Helly pun keluar kamar.
“Tadi aku di telepon bu Tika”
“Lalu?”
Wina menceritakan semua percakapannya pada Helly dengan bu Tika. Helly hanya bisa menghela nafas mendengar cerita Wina.
“Ya sudah ayo kita ke sanggar” Helly ingin mengetahui yang sebenarnya terjadi, yang menjadi pertanyaan besar untuk dirinya adalah kenapa Kitty tidak mau menceritakan apapun pada dirinya dan Wina.
Sesampainya di sanggar, Wina dan Helly langsung ke ruangan bu Tika. Lantunan musik daerah yang mengiringi para penari, gerakan lihai para penari bukan lagi menjadi perhatian Wina dan Helly hari itu.
“Bu Tika….” Wina memanggil bu Tika.
“Iya Wina, ayo masuk”
Wina dan Helly masuk ke ruangan bu Tika. Tanpa panjang lebar Helly langsung menanyakan apa yang terjadi sebenarnya pada Kitty, bu Tika tentu saja mengetahui bagaimana perasaan Wina dan Helly kala itu, mereka selalu dipersatukan dalam grup tari. Kekompakannya, semangatnya, itulah yang membuat bu Tika selalu memepersatukan mereka dalam satu grup tari. Tapi hari ini satu dari tiga sahabat itu harus pergi dan entah kapan mereka akan dipertemukan kembali. Bu Tika menceritakan semua yang Kitty sampaikan padanya.
“Kitty minta maaf pada Helly dan Wina, jika selama ini banyak salah dan membuat kalian khawatir” bu Tika menyampaikan kata terakhir yang disampaikan Kitty padanya, tentu saja bu Tika mersakan kesedihan yang dirasakan Wina dan Helly setelah mendengar cerita darinya.
Bukan tanpa alasan Kitty pergi ke kampung halamannya, keadaan ekonomi orang tua Kitty tidak memungkinkannya untuk terus tinggal di kota yang memiliki biaya hidup besar. Kitty tidak mau menceritakannya pada kedua sahabat yang sangat ia sayangi, karena itu akan membuat mereka sedih dan Kitty tidak mau melihat raut sedih di wajah mereka. Akhirnya Kitty pun memilih untuk tertutup dan tidak menceritakan masalahnya pada siapapun, terkecuali pada bu Tika. Tidak ada niatan Kitty untuk memberi tahu bu Tika, dia hanya ingin pamit keluar dari sanggar. Namun, ada hal yang membelenggu perasaannya Kitty tahu pasti kedua sahabatnya sedang mengkhawatirkannya dan Kitty tidak mau membuat kedua sahabatnya di hantui rasa khawatir.
“Aku akan baik-baik saja di kampung halaman, terimakasih telah menyayangiku” ungkapan terkahir Kitty yang di tulisnya dalam selembar kertas untuk kedua sahabat yang sangat ia sayangi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar